Arizona Sahkan Uang Emas dan Perak

arizona-gold-silver

Kekhawatiran akan runtuhnya ekonomi AS mendorong rakyatnya mulai meninggalkan dolar AS. Mereka beralih kembali pada koin emas dan perak. Dua tahun lalu rakyat Utah mensahkan emas dan perak sebagai alat tukar yang legal. Awal pekan ini, giliran rakyat Negara Bagian Arizona melakukannya.

Para senator Arizona sebelumnya telah mendesak pengesahan ini segera menjadi undang-undang sebelum Federal Reserve lebih jauh membawa perekonomian negara ke dalam jurang. The Fed adalah perusahaan swasta yang diberi hak monopoli mencetak dolar AS.

Anggota DPR Arizona mengatakan ekonomi global tengah berada di jurang kehancuran finansial dan dolar AS bisa segera runtuh, kehilangan nilai, tinggal setara kertasnya belaka. Di AS saat ini ada lebih dari selusin negara bagian terus mendorong pengesahan emas dan perak sebagai alat tukar sah. Maknanya dolar AS akan segera ditinggalkan.

Dengan terbitnya undang-undang itu maka kedudukan koin emas dan perak akan tidak berbeda menurut hukum negara dibandingkan dengan dolar AS yang dicetak oleh the Fed.
 “Ini adalah jenis mata uang yang telah kita miliki sepanjang sejarah umat manusia,” kata Senator Arizona dari Partai Republik, Steve Smith.

Pada tahun 2011, Utah menjadi negara bagian pertama di negara itu yang telah melegalkan koin emas dan perak sebagai mata uang. Anggota-anggota parlemen di Minnesota, North Carolina, Idaho, South Carolina, Colorado dan negara-negara lain tengah memperdebatkan undang-undang serupa dalam beberapa tahun terakhir ini.

Sumber: WakalaNusantara.Com
Dipublikasi di Artikel, Dinar Dirham, Muamalah | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Jangan Sesekali Punya Sifat 9M ini ATAU Hidupmu Hancur!

frustasiAnda boleh saja gagal asalkan Anda bangkit kembali, tetapi Anda dilarang keras melakukan Aksi 9M, karena 9M ini akan menghancurkan kehidupan Anda di Dunia, bahkan di Akhirat.

Sikap dan Perilaku 9M inilah yang membuat hingga hari ini hidup seseorang hanya berjalan di tempat atau bahkan mundur teratur dan tersungkur. Apa itu 9M? 9M adalah kependekan dari Maksiat, Malas, Meremehkan, Menunda, Minder, Mengeluh, Menyalahkan, Mencari alasan, dan Menyerah.

1. Maksiat,
Kegiatan ini menghasilkan dosa besar dan dosa kecil. Seseorang yang berbuat maksiat membuktikan bahwa ia masih jauh dari Allah.

2. Malas,
Adalah keengganan untuk melakukan perbuatan yang baik. Termasuk keengganan untuk beribadah kepada Allah SWT. Sifat Malas inilah yang membuat pekerjaan yang sudah dimulai belum juga terselesaikan. Malas ini menular dengan sangat cepat, perhatikanlah jika ada orang yang Malas maka bisa menyebabkan orang-orang di sekitarnya turut menjadi pemalas. Dan rupanya Malas ini termasuk ciri orang yang berperilaku munafik, dimana orang-orang munafik kelak akan menjadi bahan bakarnya api neraka.

3. Meremehkan,
Adalah sebuah sikap sombong, merasa dirinya lebih hebat dari orang lain dan merasa orang lain itu kecil di hadapannya. Meremehkan atau sombong ini membuat nilai-nilai kebaikan kita menjadi hambar terasa, dan orang lain yang berada di sekitar kita merasa kesal dengan kehadiran kita. Sikap sombong ini adalah sikap tidak menghargai kehadiran orang lain, sebuah sikap yang bisa menganiaya orang lain. Sabda Rosulullah saw. “Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan.” (HR. Muslim).

4. Menunda,
Adalah efek dari Malas dan efek dari Meremehkan sebuah pekerjaan. Kebiasaan Menunda ini membuat efektifitas seseorang berkurang drastis. Jangan sia-siakan waktu Anda. Karena ia datang lalu pergi tanpa bisa kembali. Malas dan Menunda adalah sudah satu paket yang sulit dipisahkan. Maka untuk menghilangkan kebiasaan menunda maka Anda harus awali menjadi pribadi yang bukan pemalas. Bisa jadi ketika Anda menunda perbuatan baik itu maka Anda sudah merusak rangkaian kebaikan yang sedang mengalir di semesta ini.

5. Minder,
Adalah sebuah sikap kebalikan dari meremehkan. Jika meremehkan itu merendahkan orang lain, maka minder adalah menganggap diri lebih rendah dari orang lain. Efek dari minder ini adalah tidak munculnya secara optimal kemampuan seseorang. Seseorang mungkin saja memiliki ilmu dan kecerdasan yang sangat baik, tapi disebabkan minder maka ilmu dan kecerdasannya tidak muncul optimal.

6. Mengeluh,
Adalah sebuah sikap yang merusak keikhlasan sehingga merusak hasil terbaik yang seharusnya bisa didapatkannya. Seseorang yang bekerja diiringi umpatan dan keluhan maka hampir dipastikan pekerjaan yang dilakukannya tidak akan berhasil optimal. Mengeluh adalah ibarat tikus yang menggerogoti kayu di rumah Anda.

7. Menyalahkan,
Adalah sebuah sikap pengecut dimana seseorang menyalahkan orang lain padahal hal itu adalah kesalahannya. Menyalahkan adalah sebuah sikap yang diakibatkan oleh gagalnya seseorang melakukan introspeksi diri. Ibarat seseorang yang di hidungnya terdapat kotoran yang sangat berbau, maka apapun yang ada di sekitarnya ia sangka berbau. Semuanya bau, padahal yang bau adalah dirinya. Semuanya salah, padahal kesalahan tersejati berada di dalam dirinya. Itulah orang-orang yang gagal melihat kesalahan dirinya sendiri, maka ia memiliki kecenderungan menyalahkan orang lain.

8. Mencari Alasan,
Adalah sebuah sikap yang selaras dengan suka menyalahkan orang lain. Mencari-cari alasan ini mengakibatkan seseorang gagal belajar dari kesalahannya. Biasanya orang yang ahli mencari alasan ia tidak memiliki keahlian lain yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Para pecundang itu ahli membuat alasan, ia selalu sukses mencari berbagai alasan di balik ketidakberhasilannya, dan alasan itu sangatlah masuk akal, sebab memang kalau tak masuk akal berarti ia bukan ahli membuat alasan. Sedangkan para pemenang hanya membutuhkan satu jawaban, satu aksi nyata, untuk menutup mulut para pencemooh kehidupan.

9. Menyerah,
Adalah sebuah sikap tidak meneruskan apa yang telah dimulainya dan diperjuangkannya. Menyerah adalah kata mutiara bagi orang-orang yang gagal. Seorang pemenang tidak pernah menyerah dan orang yang menyerah tidak pernah menang. Jangan menyerah, jangan putus harapan, jangan pernah menjadi pecundang yang nyaris menjadi pemenang. Ketahuilah, sekitar 90% orang yang gagal adalah orang yang hampir berhasil. Ia berhenti di saat sebenarnya finish sudah di depan matanya. Ia dibutakan oleh berbagai godaan, sehingga finish pun yang sudah sebegitu dekatnya tidak mampu dilihatnya. Teruslah bergerak menuju impian Anda, tidak masalah berapa kali Anda gagal, yang penting Anda bergerak untuk kembali bangkit dari kegagalan. Gagal itu biasa, dan bangkit itu luar biasa.

“Jangan pernah menjadi pribadi yang gagal dan menyerah, tapi jadilah pribadi yang GAGAL MENYERAH !!!”

SUMBER

Dipublikasi di Wirausaha | 1 Komentar

10 Kriteria untuk Menentukan Apa itu yang Disebut Uang

zimbabwe-money

Ketika terjadi hyperinflasi mencapai 89.7 sextillion (1021) persen atau 89,700,000,000,000,000,000,000 di Zimbabwe dua tahun lalu , banyak penduduknya menjadi kehilangan orientasi nilai—perlu berapa Dollar Zimbabwe untuk bisa membeli roti? Dalam situasi seperti ini, bila seorang bekerja sebagai pegawai atau buruh—berapa upah yang pantas? dibayar 1 Milyar Dollar sehari-pun belum cukup untuk membeli roti! Maka pekerjaan (baru) yang rame-rame dilakukan oleh warga Zimbabwe saat itu adalah pergi ke sungai-sungai untuk berburu emas, bila mereka mendapatkan 0.1 gram emas sehari saja—maka cukup untuk membeli roti bagi keluarganya hari itu.

Karena pengalaman Zimbabwe tersebut, belum lama ini National Inflation Association (NIA) –Lembaga Swadaya di Amerika yang misi-nya mempersiapkan warganya untuk menghadapi hyperinflasi– merekomendasikan seluruh warga Amerika agar rame-rame belajar mencari emas secara tradisional di sungai-sungai, bahkan teknisnya diajarkan di artikel ehow !

Berlebihankah rekomendasi NIA ini? menurut mereka sih tidak, karena berdasarkan pemantauan mereka akan tingkah laku penguasa —khususnya the Fed— negeri itu akan menuju kehancuran mata uang Dollarnya. Menurut saya sendiri berlebihan, bukan karena saya percaya Dollar-nya—tetapi banyak benda fisik lain yang dapat berfungsi sebagai uang selain emas. Jadi sama dengan Dollar Zimbabwe, Dollar Amerika juga akhirnya akan kehilangan daya belinya —sekarang-pun sudah— hanya tentu belum seburuk Zimbabwe—tetapi gantinya tidak mutlak harus emas.

Bila situasi seperti di Zimbabwe dua tahun lalu terjadi di Amerika, kemudian berdampak ke negara lain termasuk negeri ini—lantas apa uang yang bisa dipakai dalam situasi hyperinflasi ini? Berikut adalah 10 kriteria benda-benda yang bisa menjadi ‘uang’ bagi kita dalam situasi seperti apapun.

  1. Dia harus liquid, bisa dipertukarkan atau diperjual belikan dengan mudah.
  2. Dia harus acceptable, semua orang mau menerimanya dan mengakui nilainya.
  3. Harus divisible, bisa dibagi-bagi dalam unit yang lebih kecil tanpa harus kehilangan nilai (Kalung, gelang, berlian dan perhiasan lainnya tidak bisa dibagi-bagi karena akan kehilangan/berkurang nilainya)
  4. Dia harus addable, bisa dijumlahkan dan menghasilkan nilai yang proporsional dengan penjumlahan tersebut.
  5. Dia harus dapat secara spesifik diukur dalam berat, jumlah, karat, volume dlsb.
  6. Dia harus durable – bertahan dalam waktu lama tanpa kehilangan nilai ( Banyak pencari harta karun di laut-laut dalam berburu emas yang umurnya ratusan atau bahkan ribuan tahun, tetapi tidak ada orang berburu harta karun berupa Dollar !).
  7. Dia harus tidak mudah busuk dan kehilangan harganya – paling tidak selama proses jual beli berlangsung sampai diambil manfaatnya. Di sini termasuk kurma dan gandum yang disebut dalam hadits jual beli – karena dalam kondisi kering keduanya mampu bertahan lama – beda dengan daging, sayur dan buah-buahan misalnya.
  8. Dia harus memiliki nilai yang terbentuk oleh mekanisme pasar sempurna, tidak ditentukan oleh penguasa (bila yang menentukan nilainya penguasa – maka dalam kondisi krisis penguasa bisa kembali menghancurkan nilainya seperti yang terjadi di Zimbabwe tersebut diatas)
  9. Dia harus terkendali jumlahnya – bila bisa berlebihan dalam jumlah – maka dia akan otomatis kehilangan nilai.
  10. Dia harus tidak mudah untuk dipalsukan, hingga kini orang tidak mudah (tidak bisa) memalsukan perak, emas, gandum, kurma dan bahkan garam yang semuanya disebut dalam hadits jual beli.

Dengan sepuluh kriteria tersebut, sesungguhnya mudah untuk melihat mana benda-benda yang sesungguhnya adalah uang dan mana yang bukan. Maka ketika kendali uang di dunia ditangan orang-orang seperti Ben Bernanke (the Fed Chairman, US) —yang menyatakan bahwa yang sesungguhnya uang (emas) adalah bukan uang dan yang bukan uang (Dollar) adalah uang— bisa dibayangkan dampak yang bisa terjadi di sistem uang dunia yang kini berlaku—krisis ala Zimbabwe bisa terjadi di mana saja termasuk di Amerika yang mengaku adikuasa sekalipun. Di Youtube ada diskusi menarik tentang uang dan bukan uang ini antara senator Ron Paul dengan Ben Bernanke—untuk menambah wawasan kita.

Dengan sepuluh kriteria tersebut, kita kini punya semacam checklist untuk memverifikasi apakah ‘tabungan’ kita selama ini adalah uang atau bukan uang. Bila dia bukan uang-pun tidak menjadi masalah, asal dia adalah growing asset yang nilainya tumbuh seperti pohon-pohon, kebun dlsb. Yang perlu dihindari adalah jangan sampai tabungan itu tidak berupa uang yang sesungguhnya dan tidak pula berupa asset yang tumbuh – dia tidak akan memakmurkan malah sebaliknya dia menjadi wealth reducing assets – aset yang menurunkan kemakmuran pemiliknya !. Wa Allahu A’lam.

Oleh: Aditya Nugroho

Sumber: Klik Disini

Dipublikasi di Dinar Dirham, Muamalah, Wirausaha | Meninggalkan komentar

Memakmurkan Rakyat dengan Pasar, Bukan dengan Mencetak Uang Banyak-Banyak

us-paper-money

Ini adalah cerita nyata dari negeri yang mengaku dirinya sebagai negeri adi kuasa. Al kisah hampir tiga tahun lalu negeri itu menjadi pemicu krisis keuangan global, yang dampaknya nyaris merambah ke seluruh dunia. Karena mereka mengira bahwa supply uang-lah yang bisa mengatasi krisis tersebut, maka banyak-banyak uang Dollar dicetak. Sejak krisis memuncak September 2008 hingga kini, konon bank sentral-nya negeri itu –Federal Reserve– telah ‘mencetak uang’ dari awang-awang sebanyak US$ 1.6 trilyun. Teratasikah krisis mereka dengan injeksi uang yang luar biasa banyaknya tersebut ?Ternyata tidak…!

Data resmi inflasi yang dikeluarkan pemerintah negeri itu setahun terakhir memang hanya 3.2 % (data per April 2011), tetapi banyak pihak di negeri itu sendiri yang meragukan kebenarannya—di antaranya adalah Shadow Government Statistics yang mengklaim inflasi sesungguhnya bisa lebih dari dua kalinya.

Menurut saya sendiri pengukuran inflasi yang paling akurat adalah dengan menggunakan indikator harga emas —karena adanya bukti yang sahih bahwa daya beli emas (yang direpresentasikan oleh Dinar) adalah stabil sejak jaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam— yaitu satu Dinar untuk satu ekor kambing kelas baik.

Dengan menggunakan indikator kenaikan harga emas, kita tahu bahwa sejak krisis memuncak September 2008 dan pemerintah negeri itu mulai mencetak uang dengan skala besar, harga emas telah melonjak lebih dari dua kalinya dari kisaran US$ 750/Oz ke angka diatas US$ 1,500/Oz hari-hari ini.

Apa ini artinya ? bila Anda hidup di negeri tersebut dengan uang Dollar-nya dan penghasilan Anda dalam Dollar tidak bisa naik dua kalinya atau lebih selama tiga tahun terakhir—maka Anda akan merasakan penurunan kemakmuran. Bentuknya adalah barang-barang kebutuhan Anda menjadi lebih berat untuk Anda beli.

Pemerintah negeri itu yang menggunakan teori Keynesian —yaitu teorinya John Maynard Keynes (1936) bahwa negaralah yang paling efektif dalam mempengaruhi siklus ekonomi— yang kemudian diaplikasikan dengan tindakan bank sentral mengendalikan jumlah uang dan kebijakan fiskal pemerintah—ternyata gagal dalam mengatasi krisis, yang berarti juga gagal dalam mempertahankan kemakmuran rakyatnya.

Di dunia barat sendiri sebenarnya pendekatan Keynesian ini tidak sedikit yang menentangnya. Adalah Frederich August Von Hayek —pemenang hadiah Nobel ekonomi tahun 1974— yang juga pendukung teori Austrian, yang antara lain menjadi penentang utamanya.

Dalam bukunya yang kondang “Denationalisation of Money : The Argument Refined” (The Institute of Economic Affairs, London–1990) , Hayek bahkan menuduh bahwa kebijakan moneter bank sentral lebih merupakan penyebab terjadinya depresi di suatu negara ketimbang menyembuhkannya. Lebih jauh dalam teori Austrian ini, pemerintah atau bank sentral tidak seharusnya ‘mencetak uang’ atau setidaknya tidak menjadi satu-satunya pihak yang mencetak uang.

Uang bisa saja dikeluarkan oleh pihak manapun (termasuk swasta) —yang akan digunakan dan dipercayai masyarakat sejauh daya belinya bisa dijaga konstant terhadap sekumpulan barang-barang yang dibutuhkan di masyarakat tersebut. Sebaliknya juga demikian, uang yang dikeluarkan oleh bank sentral atau oleh pemerintah sekalipun— bila daya belinya tidak bisa dijaga —maka dengan sendirinya akan ditinggalkan masyarakat. Pendapat ini juga diamini oleh penulis kondang yang dianggap ‘dewa’-nya ekonom futuristis barat— yang konon prediksi ekonominya terbukti benar dalam dua dasawarsa terakhir—John Naisbitt dalam bukunya Mind Set ! (2006).

Masih segar diingatan kita peristiwa krisis moneter 1997/1998 di Indonesia, ketika warga negeri ini yang kaya rame-rame memindahkan uangnya dari Rupiah ke Dollar atau mata uang asing lainnya karena Rupiah yang daya belinya anjlog tinggal ¼-nya selama krisis kala itu. Hal yang sama terjadi di negeri-negeri ekonomi kuat dunia saat ini yang mulai meninggalkan Dollar atau setidaknya mengurangi ketergantungannya terhadap Dollar —karena meskipun Dollar adalah uang resmi yang dikeluarkan oleh otoritas yang berwenang dari negeri adi kuasa— kenyataan menunjukkan bahwa daya belinya terus merosot.

Ketika masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap uang resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah, apa yang mereka lakukan ? Selain menukarnya dengan mata uang lain , masyarakat juga ‘mengaman’-kan uangnya dalam bentuk benda-benda riil seperri rumah, mobil, sawah, kebon dan lain sebagainya.

Tetapi rumah, mobil dan sejenisnya bukanlah komoditi yang mudah dipertukarkan, maka dia tidak menjadi uang yang sesungguhnya. Uang yang sesungguhnya adalah komoditi yang liquid —mudah dipertukarkan dan nilainya terbentuk oleh mekanisme pasar sempurna— tidak diintervensi oleh siapapun.

Maka dalam Islam, referensi yang sahih untuk uang adalah hadits riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai”.

Pertanyaan berikutnya adalah di mana barang-barang tersebut dengan mudah dipertukarkan atau diperjual belikan ? Ya tentunya di pasar ! Maka mungkin inilah pelajarannya, mengapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendirikan pasar sedari dini terbentuknya negara Madinah —karena melalui pasar-pasar inilah umat atau rakyat saling memenuhi kebutuhan hidupnya— saling memakmurkan.

Pelajaran berharga ini hendaknya yang perlu menjadi prioritas para pemimpin yang ingin memakmurkan rakyatnya, tidak perlu terlau banyak meributkan ‘pencetakan’ uang —tetapi kerja keraslah untuk memutar barang di pasar-pasar !— Insyaallah rakyat akan bisa lebih cepat makmur. Wa Allahu A’lam.

Oleh: Aditya Nugroho

Sumber: Klik Disini

Dipublikasi di Muamalah, Wirausaha | 1 Komentar

Dan Nabi SAW-pun Mendirikan Pasar…

Digambarkan dalam sejarah bahwa setelah Hijrahnya Rasulullah SAW dan para pengikutnya, bumi-bumi yang semula gersang-pun kemudian terolah menjadi kebun-kebun yang subur dan taman-taman yang indah. Karena konsep bekerja adalah ibadah pula, maka hal-hal positif yang terkait dengan peribadatan seperti keadilan, kejujuran, kesetaraan, kehati-hatian, kebersahajaan, infaq dlsb. dapat termanifestasikan dalam kehidupan umat sehari-hari ketika mereka bekerja.

Awalnya tentu tidak mudah karena ketika kaum Muhajirin mulai aktif berdagang di Madinah misalnya, mereka berdagang di pasar yang sudah ada waktu itu yaitu pasar yang di kelola oleh yahudi. Pengelolaan pasar oleh yahudi yang di Al-Qur’an digambarkan bahwa mereka menganggap halal untuk mengambil harta orang lain ini (orang-orang umi , QS 3:75), tentu saja bermasalah.

Oleh karena penguasaan pasar oleh kaum  yahudi tersebut pula maka umat Islam semula tidak bisa sepenuhnya mengimplementasikan nilai-nilai Islam di pasar – maka kemudian Rasulullah SAW-pun memandang penting untuk segera mendirikan pasar bagi kaum muslimin di awal-awal terbentuknya masyarakat yang akan hidup dengan nilai-nilai Islam yang menyeluruh di Madinah.

Di suatu tempat yang berjarak hanya beberapa rumah arah barat laut dari Masjid Nabi – yang telah didirikan terlebih dahulu, Rasulullah mendirikan pasar dangan sabdanya “Ini pasarmu,  tidak boleh dipersempit (dengan mendirikan bangunan dlsb. didalamnya) dan tidak boleh ada pajak didalamnya”. (HR. Ibn Majah).

Pasar di area terbuka ini memiliki panjang sekitar 500 meter dan lebar sekirat 100 meter (luas sekitar 5 ha), jadi cukup luas untuk mengakomodasi kebutuhan penduduk kota yang kemudian berkembang pesat – paska Hijrah. Lokasinya juga dipilih sedemikian rupa sehingga penduduk yang datang dari berbagai wilayah – mudah mencapai pasar tersebut. Pasar Madinah inilah yang kemudian menjadi urat nadi perekonomian negara Islam yang pertama, yang berpusat di Madinah.

Lokasinya yang tidak jauh dari Masjid Nabi tetapi juga tidak terlalu dekat (selang beberapa rumah) juga memiliki nilai strategis sendiri. Nilai-nilai yang terbawa dari ketaatan beribadah di masjid dapat mewarnai aktifitas perdagangan di pasar, namun hal-hal yang buruk dari pasar seperti keramaiannya tidak mempengaruhi aktifitas dan kekhusukan umat yang beribadah di masjid.

Bahkan cara-cara pengelolaan pasar-pun memiliki kemiripan dengan pengelolaan Masjid. Hal ini disampaikan oleh Umar Ibn Khattab yang menjadi Muhtasib – pengawas pasar – setelah Rasulullah SAW dengan perkataaannya bahwa “Pasar itu menganut ketentuan masjid, barang siapa datang terlebih dahulu di satu tempat duduk, maka tempat itu untuknya sampai dia berdiri dari situ dan pulang kerumahnya atau selesai jual belinya”.

Nilai pesan yang terkandung didalam perkataan Umar ini sejalan dengan hadits Nabi SAW tersebut diatas yang intinya adalah akses ke pasar harus sama bagi seluruh umat; tidak boleh meng-kapling-kapling pasar. Hal ini diimplemantasikan Umar dengan melarang orang membangun bangunan di pasar, menandai tempatnya, atau mempersempit jalan masuk ke pasar. Bahkan dengan tongkatnya Umar  menyeru “enyahlah dari jalan” kepada orang-orang yang menghalangi orang lain masuk ke pasar.

Lantas pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sunah Rasulullah SAW mendirikan pasar – yang kemudian juga terus ditegakkan oleh para Khalifah  tersebut diatas ?.

Yang jelas situasi pasar-pasar yang ada dewasa ini tidak jauh berbeda dengan kondisi pasar di Madinah yang dikelola yahudi sebelum didirikannya pasar bagi kaum muslimin oleh Rasulullah SAW tersebut diatas. Segala macam kecurangan  a la yahudi terjadi di pasar kini, dan yang paling menyolok adalah akses pasar yang tidak mudah dijangkau oleh mayoritas umat.

Di Jabodetabek misalnya, Anda bisa membuat baju-baju yang indah dan makanan-makanan yang enak. Tetapi tidak berarti Anda dengan mudah bisa menjualnya ke pasar. Untuk menyewa tempat di mall atau food court pada umumnya sangat mahal – sehingga hanya bisa dijangkau segelintir orang saja – yang justru sudah kaya.

Bila Anda berusaha jualan di tempat-tempat terbuka, di pinggir-pinggir jalan – maka bila tidak digusur oleh tramtib atau Satpol PP – Anda akan menjadi buan-bulanan para preman, tukang amen, pengemis dlsb. Walhasil, kesejahteraan umat secara luas – sulit sekali diangkat karena antara lain terbatasnya akses ke pasar ini.

Maka selain perjuangan-perjuangan lainnya seperti perjuangan melawan riba, ketidak adilan ekonomi dan sejenisnya , kini saatnya para pejuang ekonomi Islam juga harus mulai memperjuangkan pasar bagi kaum muslimin ini.

Tentu juga tidak mudah, dan juga tidak langsung sempurna seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan Para Khalifah tersebut diatas, tetapi langkah menuju kesana harus ada yang memulai.

Oleh: Muhaimin Iskandar

Sumber: http://geraidinar.com/index.php/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/555-dan-nabi-pun-medirikan-pasar

Dipublikasi di Muamalah, Wirausaha | 1 Komentar

Pasar Islam sebagai Sarana Dakwah Islam

Rasulullah Saw sebelum memperoleh wahyu Allah Swt, semula sebagai pedagang. Disiapkan sebelumnya dengan kehidupan yang bergumul dengan hiruk pikuk pasar sejak usia dini yaitu usia 8 tahun hingga dewasa 40 tahun.

Selama 32 tahun, Muhammad berprofesi sebagai pedagang. Namun dikarenakan wahyu Allah Swt, pada usia 40 tahun berubah status menjadi Rasulullah Saw berjuang mendakwahkan Islam selama 23 tahun.

Subhanallah, dalam waktu relatif singkat dalam ukuran waktu sejarah, menjadikan bangsa Arab yang tadinya jahiliyah berubah menjadi jenius, yang tadinya melakukan penyembahan terhadap berhala berubah menjadi tauhid yaitu hanya menyembah Allah Swt saja. Ajaran Islam tidak diturunkan di istana tapi dengan izin Allah Swt mampu menumbangkan singgasana penguasa-penguasa zalim yang beristana megah.

Kekaisaran Persia dengan ajaran Majusinya dan kerajaan Romawi Bizantium dengan Nasraninya. Keduanya tidak mampu menghentikan gerak laju sejarah yang dibangkitkan oleh kelompok kecil yang dipenuhi dengan rahmat dan pertolongan Allah Swt.

Muhammad bin Abdullah sebagai Pedagang (Wirausaha)

Muhammad bin Abdullah ketika berusia 12 tahun, untuk pertama kalinya melakukan perjalanan niaga (dagang) ke Syiria bersama pamannya, Abu Thalib. Dengan ikut sertanya dalam kafilah/karavan saudagar Mekkah maka beliau menjadi yang termuda di antara rombongan tersebut.

Adapun pasar-pasar yang sudah ada sebelumnya yang kemudian diganti sistemnya menjadi sistem Islam dan dipimpin oleh Rasulullah Saw di sekitar Jazirah Arabia adalah :

1. Dumatul Jandal

Pasar dekat Hijaz utara berbatasan dengan Syiria. Pasar ini merupakan pasar tahunan yang diramaikan pada sepenuh bulan Rabi’ul Awal.

2. Mushaqqar

Sebuah kota yang terkenal di Hijar, Bahrain. Di sini diselenggarakan pasar tahunan sepenuh bulan Jumadil Awal.

3. Suhar

Pasar di Oman merupakan pasar tahunan yang berlangsung selama 5 hari di bulan Rajab.

4. Daba

Salah satu di antara 2 kota pantai yang dijadikan pusat kegiatan pemasaran komoditi produk cina, india dan kota-kota timur lainnya. Di sini timbul pasar tahunan setelah pindah dari pasar Suhar. Oleh karena itu aktifitas pemasarannya terjadi pada akhir bulan Rajab.

Para saudagar dari pasar Suhar setelah 5 hari pada bulan Rajab, pada akhir bulan Rajab pindah ke pasar Daba.

5. Shihir atau Maharah

Pasar tahunan Shihir ini di pantai antara Aden dengan Oman. Di sini, dikenal dengan parfum Amber. Pasar tahunan diadakan pada Nisfu Sya’ban.

6. Aden

Pasar tahunan Aden diselenggarakan pada puluhan pertama Ramadhan. Di sini merupakan tempat pemasaran komoditi dari wilayah timur dan selatan

7. San’a

San’a, nama ibukota Yaman. Pasar tahunan di sini dibuka sebagai kelanjutan dari Aden. Dilaksanakan dari puluhan kedua hingga akhir Ramadhan.

8. Rabiyah

Salah satu kota Hadramaut. Pasar tahunan yang diselenggarakan pada Nisfu atau pertengahan hingga akhir Dzulqaidah.

9. Ukaz

Pasar Ukaz terletak di Nejaz Atas. Pasar tahunan ini diselenggarakan bersamaan waktunya dengan pasar Rabiah Hadramaut, artinya dilaksanakan pada pertengahan hingga akhir Dzulqaidah.

10. Dzul Majaz

Pasar Dzul Majaz yang berposisi dekat dengan Ukaz. Pasar tahunan ini diselenggarakan hingga akhir 1 sampai 7 Dzulhijjah.

11. Mina

Mina sebuah pasar sebagai kelanjutan dari Pasar Dzul Majaz. Waktu pasar tahunan Mina diselenggarakan bersamaan dengan waktu haji.

12. Nazat

Pasar tempatnya di Khaibar. Pasar tahunan ini diselenggarakan dari puluhan pertama hingga akhir bulan Muharram.

13. Hijr

Sebuah kota Yamamah. Adapun pasar tahunan ini diselenggarakan waktunya bersamaan dengan Pasar Nazat, artinya dirayakan pada waktu puluhan pertama hingga akhir Muharram. (Sayyid Muhammad Jamalul Lail, Asywaqu Rasulillah)

Tumbangnya Pasar Milik Yahudi dan Tumbuhnya Pasar Islam

Gerak sejarah Islam menyebar dengan sangat menakjubkan meluas hingga menembus cakrawala dunia. Salah satu cara penyebarannya adalah melalui karavan para saudagar (pedagang) muslim dari pasar ke pasar. Para saudagar tidak hanya sebatas memasarkan komoditi barang dagangan semata tapi menjadikan pasar sebagai arena dakwah melalui amalan muamalah (perdagangan) Islam.

Seperti tumbangnya Pasar Bani Qainuqa’ milik yahudi di Madinah dan tumbuhnya pasar Islam yang dibangun oleh Rasulullah Saw beserta kaum muslimin setelah periode hijrah ke Madinah. Suburnya riba dan matinya sedekah di Pasar bani Qainuqa’ berubah menjadi matinya riba dan suburnya sedekah di pasar Islam.

Menumbangkan cara-cara berdagang orang-orang kafir yang didasari hawa nafsu dan digantikan menjadi sistem muamalah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dipraktekkan oleh kaum muslimin.

Menumbangkan ajaran materialisme yang hanya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara digantikan menjadi bertujuan untuk mendapatkan barakah dan ridha Allah dengan cara-cara berdagang yang tidak melanggar syar’i.

Dampaknya, aturan jahiliyah pun roboh, tidak mampu bertahan. Kehadiran Islam disambut sebagai kekuatan pembebasan dari belenggu pembodohan, perbudakan dan penyembahan terhadap makhluk menjadi tauhid yaitu penyembahan hanya kepada Allah Swt semata.

Istilah Pasar dan Perkembangannya di Nusantara

Istilah pasar berasal dari Timur Tengah yaitu dari kata bazaar. Sebelumnya di nusantara tidak dikenal istilah tersebut. Istilah tersebut mulai masuk karena pengaruh Islam dan kontak niaga dengan Timur Tengah.

Melalui pasar, berkembanglah pula Bahasa Melayu Pasar sebagai bahasa komunikasi niaga dalam pasar. Demikian pula huruf Arab Melayu menjadi dikenal di Nusantara. Bandingkan dengan kondisi sekarang, banyaknya ruko-ruko, kios-kios, pertokoan, factory outlet, mall, supermarket, hypermarket dan minimarket yang merupakan sistem pasar tertutup (monopoli/riba) yang hanya menguntungkan segelintir orang saja.

Berbeda dengan pasar Islam yang bersifat terbuka bagi siapa saja yang ingin berdagang di dalamnya tanpa pungutan uang sewa dan pajak serta tidak ada klaim tempat. Syarat bisa masuk ke pasar Islam hanya satu yaitu paham hukum riba dan fiqih dagang serta siap dikeluarkan dari pasar oleh muhtasib (pengawas pasar) kalau melakukan transaksi yang melanggar syar’i.

Islam memberikan semangat kehidupan dengan penciptaan ekonomi terbuka melalui pasar. Sistem ini melahirkan sistem sosial terbuka, artinya setiap individu mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh penghidupan yang layak melalui amalan muamalah-nya yang sesuai syar’i di pasar Islam.

Pola Pendidikan yang Menjauhkan dari Pasar

Pada umumnya, kebanyakan orang kurang memperhatikan pasar sebagai sarana perubahan besar dalam pola hidup masyarakat. Dengan pola pendidikan industrialis materialis yang membentuk para pekerja yang hanya berpikir melamar kerja setelah mendapat ijazah maka melupakan pasar sebagai sarana untuk menjadi saudagar muslim.

Profesi pekerja di perkantoran dengan berdasi di belakang komputer, pergi pagi pulang petang, mendapatkan gaji per bulan dianggap lebih bergengsi dibanding menjadi pedagang di pasar yang mempunyai penghasilan per transaksi atau per hari.

Sebagai contoh sahabat Rasulullah Saw yaitu Abu Darda ra yang mendapatkan keuntungan 300 dinar per hari dari berdagang dan Abdurrahman bin Auf ra yang meninggalkan harta warisan 80.000 dinar. Contoh yang lain adalah Imam Bukhari (imamul hadits) yang berprofesi sebagai pedagang kain yang mendapatkan keuntungan 5000 sampai 10.000 dirham per transaksi.

Kemuliaan Pedagang yang Jujur

Rasulullah r bersabda, “Pedagang yang jujur amanatnya kelak di hari kiamat bersama-sama para nabi, shiddiqin dan para syuhada”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dari Rifa’ah Ibnu Rafi’ bahwa Nabi r pernah ditanya, “Pekerjaan apakah yang paling baik?”. Beliau bersabda, “Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual-beli yang bersih”. (HR. Al-Bazzar, Hadits shahih menurut Hakim)

Kehadiran Pasar Islam harus Dibarengi dengan Banyaknya Pedagang yang Jujur dan Faqih (Paham Din)

Kehadiran Pasar Islam saja belum cukup, tapi harus juga ada pembinaan para pedagang agar bisa memahami hukum riba dan fiqih dagang. Dan yang lebih baik lagi apabila para pedagang Pasar Islam itu faqih sehingga bisa berdakwah kepada umat.

Sumber: http://blogmuamalah.wordpress.com/2010/07/31/pasar-islam-sebagai-sarana-dakwah-islam-edisi-13/

Dipublikasi di Artikel, Dinar Dirham, Muamalah | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Paguyuban (Guilds) Islam, Pasar Islam, dan Wirausahawan Muslim

Apa itu Paguyuban (Guilds)

Paguyuban adalah perkumpulan para pekerja ahli yang alamiah dari masyarakat. Selama ribuan tahun, masyarakat beradab mengatur perdagangan mereka melalui paguyuban. Sepanjang sejarah, sistem paguyuban mewakili gerak hati alamiah masyarakat untuk memerintah dirinya sendiri menghadapi perubahan-perubahan mengikuti perkembangan dan kemajuan.

Paguyuban adalah perkumpulan para pekerja ahli (master) yang juga mempunyai thalib/apprentice (orang yang belajar) yang melakukan pekerjaan bersama secara horisontal dengan dasar persaudaraan karena Allah. Tidak ada biaya yang dikenakan bagi para thalib dan juga tidak ada upah bagi para master untuk mengajarkan keahliannya.

Bahkan para thalib malah bisa memperoleh uang dari keahliannnya membantu para master yang mempunyai pekerjaan tertentu dan juga para master bisa memperoleh manfaat dari keahlian para thalib untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Paguyuban adalah tempat belajar untuk menjadi ahli di bidangnya yang terbuka bagi siapa saja yang mempunyai keinginan yang kuat dan sungguh-sungguh. Paguyuban adalah tempat belajar dan sekaligus tempat bekerja karena bukan hanya berhubungan dengan para ahli saja tapi juga berhubungan dengan para pembeli/konsumen yang membutuhkan produk atau jasa dari perkumpulan para ahli/pakar tersebut.

Para thalib di paguyuban bukan hanya belajar keahlian di bidang tertentu saja tapi langsung belajar juga dari mulai cara menjual produk dan jasanya kepada pembeli, perancangan produksi, proses pembuatan, pengemasan produk, finishing dan layanan purna jual.

Dan juga para thalib ini juga belajar bagaimana adab-adab dalam berhubungan dengan majikan, bawahan, mitra kerja dan konsumen. Adab ini jauh lebih penting dari keahlian yang dipelajari, maka para master bisa ditinggalkan oleh para thalib seandainya tidak mempunyai adab-adab yang sesuai syar’i.

Setelah mengalami masa belajar di paguyuban, para thalib ini bisa langsung menjadi pedagang mandiri yang langsung bisa menjual produk dan jasanya di Pasar Islam atau bisa juga memilih untuk bekerja kapada orang lain dengan sistem upah atau bisa juga menjadi pekerja lepas dengan basis proyek/pekerjaan.

Paguyuban adalah sekaligus tempat riset dan pengembangan baik dari sisi keahlian maupun dari sisi produk. Keahlian dan produk hasil riset ini bisa langsung dijual di Pasar Islam tanpa harus menunggu permodalan, pemasaran dan sistem distribusi tertutup yang telah dikuasai oleh segelintir orang (oligarki kapitalis).

Tempat belajar hari ini telah turun derajat ke dalam organisasi kaku tertutup (ekslusif) yang akhirnya membolehkan hak-hak istimewa yang men-setting murid hanya untuk menjadi pegawai yang tidak mengenal barakah, halal, haram dan syubhat dalam mencari nafkah. Dan ini adalah bagian dari sistem riba (monopoli).

Tempat belajar dan bekerja hari ini telah dibuat urusan keduniawian, dicabut dari makna diin (agama), dia telah dipindahkan dari bagian syariat. Diin sekarang telah dianggap kedudukan agama yang hanya terbatas pada ibadah ritual harian.

Sedangkan muamalah, bagian syariat yang berurusan dengan cara belajar dan transaksi-transaksi yang berurusan dengan perdagangan telah dihilangkan, yang akhirnya membantu kepentingan sistem kufur (riba dan monopoli).

Lihat saja hari ini, tempat belajar dengan alasan ingin dikatakan modern, telah berlomba-lomba untuk menghiasi gedung dan peralatannya dengan cara meminjam dari rentenir yang bunga ribanya dibebankan kepada para thalib. Wajar saja, kalau biaya belajarnya terus naik dari tahun ke tahun. Institusi pendidikan sudah menjadi bagian dari sistem riba.

Lihat juga hari ini, tempat bekerja dengan modal, sarana dan prasarananya dibiayai dengan pinjaman dari rentenir yang bunga ribanya dibebankan kepada para pekerjanya untuk bekerja keras dengan cara yang tidak mengenal halal, haram dan syubhat, yang penting mendatangkan laba dan keuntungan. Institusi pekerjaan/perusahaan sudah menjadi bagian dari sistem riba.

Peradaban Islam ratusan tahun menempatkan tempat belajar dan bekerja di komitmen diin dan hasilnya adalah kelahiran dan perkembangan paguyuban. Dan paguyuban tidak akan bisa diwujudkan tanpa adanya Pasar Islam. Dan Pasar Islam tidak akan bisa diwujudkan tanpa adanya dinar dirham Islam. Tugas kita adalah membawa tindakan belajar, bekerja dan berdagang di bawah cahaya syariat.

Fungsi Paguyuban (Guilds)

Fungsi Paguyuban menjadi tempat bekerja dan pendidikan yang efektif bagi kaum muda Islam dan masyarakat pada umumnya. Paguyuban mempunyai fungsi sosial untuk membantu anggota paguyuban itu sendiri dan masyarakat muslim pada umumnya. Paguyuban sebagai bentuk layanan kepada masyarakat luas. Fungsi Paguyuban berkaitan erat dengan kembalinya fungsi waqf, Dinar-Dirham dan Pasar Bebas Islam.

Kerja adalah pada dasarnya ibadah untuk mencari barakah (ridha Allah). Kerja bukanlah semata-mata, seperti dibayangkan hari ini, kejadian dan alat memperoleh sebuah gaji atau untuk menghasilkan barang-barang.

Itulah sebabnya kerja tidak dianggap sebuah kegiatan otot atau otak tetapi jiwa.  Karena alasan inilah jalan masuk ke kerja dan tempat kerja mempunyai sisi rohaniah, tak dapat dibatasi pada kelas dan tak juga dapat diukur menurut golongan-golongan pendapatan.

Karena hanya lelaki-lelaki bebas dapat melayani, kita bedakan pekerja yang melayani khalayak dengan budak-upah yang memenuhi kerjaan otomatis seperti tugas yang sudah ditentukan demi gaji. Mengganti  pekerja oleh sebuah mesin semata-mata menyatakan secara tidak langsung mengganti satu macam ongkos eksploitasi dengan lainnya. Dalam pengertian ini mesin dan budak-upah yang digantikannya sama saja.

Pada akhirnya mesin akan lebih disukai untuk bekerja 24 jam penuh untuk membayar cicilan dan bunga riba yang bisa membengkak terus. Inilah akibat dari prinsip-prinsip ekonomi modern super jahiliyah yang menyuburkan riba dan monopoli dalam perdagangan dan industri.

Karena itu pekerjaan massal sendiri membiakkan pengangguran, yang akhirnya mengharuskan kebutuhan untuk memasukkan modal yang sangat besar untuk perdagangan dan produksi sehingga kapitalisme hanya menjunjung tinggi mereka yang memiliki uang semata.

Maka hari ini para pedagang dan pekerja menjadi budak-budak rentenir. Mereka dengan rela berpikir dan bekerja keras 24 jam penuh semata-mata untuk membayar cicilan pokok dan bunga riba kepada rentenir. Maka wajar saja,  prinsipnya juga time is money (waktu adalah uang). Pedagang dan pekerja sudah menjadi bagian dari sistem riba dan monopoli.

Sedangkan paguyuban memungkinkan keuntungan bersama melalui kerja-sama dan persekutuan. Di dalam paguyuban (gilds) bisa terjadi akad-akad qiradh (investasi bagi hasil), syirkah (persekuruan modal dan kerja), ijarah (sewa menyewa dan upah mengupah). Dilarang untuk melakukan riba dan monopoli apalagi berhubungan dengan rentenir

Dasar-dasar Gilda (Paguyuban)

  1. Keyakinan bahwa Allah-lah yang memberikan rizki, melebihkan dan mengurangkan dengan rahmat-Nya.
  2. Persaudaraan yang kuat karena Allah swt
  3. Mujahadah (berjuang dengan sungguh-sungguh)
  4. Kerja adalah sebuah bentuk ibadah kepada Allah Swt
  5. Pendidikan Muslim yaitu ilmu (pengetahuan) harus dibagi untuk membebaskan orang-orang dari kbodohan dan keterbelakangan
  6. Menghilangkan COPY-RIGHT menjadi COPY-LEFTS yaitu prinsip dengan menyampaikan ilmu kepada orang lain maka pahala akan mengalir dan ilmunya akan ditambah oleh Allah Swt.
  7. Kerjasama horizontal dengan adanya akad-akad qiradh, syirkah, ijarah, ariyah antar anggota paguyuban
  8. Waqf. Sumbangananggota Paguyuban itu sendiri dan dari masyarakat muslim

Karena dalam Islam tidak ada pajak diwajibkan untuk awqaf, ia menyatakan secara tidak langsung sebuah kemuliaan watak dimana anggota paguyuban ‘menerima’ pemberian pembiayaan awqaf. Ini adalah zuhud dan keikhlasan untuk membantu mereka yang butuh.

Bagian pokok dari paguyuban adalah penciptaan wakaf (atau awqaf) yang menggantikan gagasan lama tentang kesejahteraan terpusat dengan sistem lembaga kesejahteraan-langsung swatantra. Wakaf dari paguyuban, diciptakan melalui sumbangan anggota-anggota, dimaksudkan sebagian untuk masa depan yang tak terjangkau, sebagian ditujukan pada pekerjaan dan sebagian pada bantuan sosial dan kesejahteraan untuk anggota-anggota dan keluarga-keluarga mereka.

Kesimpulan

Maka mau sampai kapan kita menjadi budak sistem kufur riba dan monopoli yang dibuat oleh Yahudi ini?  Seperti ungkapan Umar bin Khattab bahwa manusia itu pada dasarnya hina, baru disebut mulia ketika hidup dengan aturan Islam.

Sistem kufur riba dan monopoli telah membuat kita menjadi bodoh (jauh dari diinul Islam), miskin (terbelakang dalam perdagangan), hina dan menjadi santapan lezat bagi musuh-musuh Islam. Jangan sampai kita mengikuti Yahudi dan Nasrani masuk ke dalam lubang biawak. Naudzubillah

Sumber: http://blogmuamalah.wordpress.com/2010/07/22/paguyuban-guilds-islam-adalah-teknik-mendidik-umat-menjadi-wirausaha-ahli-mandiri/

Dipublikasi di Dinar Dirham, Muamalah | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar