Open Mitsqal dan Sistem Dinar Dirham

Oleh: Prof. Tariq Khan

Manusia dan Metal (Logam)

Metalurgi adalah salah satu jenis sains teknis (applied science) yang tertua dalam peradaban manusia. Sejarah seni metalurgi bisa dilacak hingga sekitar tahun 6,000 SM. Pada mulanya kriya metalurgi masih bersifat kasar dan berupa metalurgi dasar (rudimentary). Akan tetapi untuk proses metalurgi ini perlu dimengerti agar mendapatkan perspektif yang lebih jelas. Terutama sangat menarik jika kita memahami kaitan-kaitan historis antropologis antara manusia dengan logam (metal) atau semacam aspek antropometalurgi.

Saat ini manusia mengenali setidaknya 86 jenis logam (metal). Sebelum abad ke 19 M hanya sekitar 24 jenis logam (metal) yang telah diidentifikasi secara kimiawi. Di antara ke 24 jenis logam tersebut, 12 di antaranya ditemukan pada abad sebelumnya, abad 18 M. Sehingga sekitar 7,700 tahun, manusia hanya mengenal 12 jenis  logam, termasuk dua logam yang ditemukan pertama kali yaitu emas dan tembaga (copper).

Empat logam, dari 12 logam kuno tersebut, yaitu Arsenikum, Antimony, Zinc (Seng) dan Bismuth ditemukan manusia pada antara abad ke 13 atau ke 14 Masehi.  Dan Platinum baru ditemukan pada abad ke 16 M.

Sisanya adalah tujuh logam (metal) yang disebut Logam Antik (Metal of Antiquity), yaitu logam-logam yang paling banyak digunakan oleh peradaban-peradaban masa lampau. (Mungkin saja ada beberapa logam-logam lain, tetapi tujuh logam ini yang tertransfer ke peradaban saat ini).

Ketujuh logam antik tersebut antara lain

  • Gold (emas), circa 6000 SM
  • Copper (tembaga), circa 4200 SM
  • Silver (perak), circa 4000 SM
  • Lead  (timah), circa 3500 SM
  • Tin, circa 1750 SM
  • Iron (besi), smelted, circa 1500 SM
  • Mercury (raksa), circa 750 SM

Metal-metal tersebut sudah digunakan oleh peradaban-peradaban seperti Mesopotamia, Mesir, Yunani dan Romawi.

Dari ketujuh logam tersebut di atas, beberapa logam dapat ditemukan dari masing-masing peradaban tersebut di atas dengan pelbagai kegunaan.  Emas, tembaga, perak, besi (awalnya didapat dari meteor) dan raksa. Akan tetapi ketersediaan logam-logam tersebut tidaklah berkelimpahan. Padahal, kedua logam yang pertama ditemukan, emas dan tembaga, sudah sangat luas digunakan di masyarakat. Dan tentu saja, sejarah logam-logam ini sudah erat kaitannya dengan koin dan seni pahat perhiasan. Artinya meskipun sulit didapatkan tapi telah luas digunakan, membuktikan aktivitas penambangan telah masif dilakukan.

Dengan demikian masyarakat manusia menemui satu aktivitas awal dari proses metalurgi, yaitu menemukan (eksplorasi) di mana metal deposit (sumber-sumber logam) dan mengeksploitasi melalui penambangan. Pada awalnya ‘warna’ dari logam adalah cara mengidentifikasi paling sederhana dan pertama kali digunakan. Dan memang hal ini merupakan faktor penting dalam identifikasi logam. Dengan demikian logam dapat dikenali di antara cadas dan batu, kerikil dan pasir (dirt/gangue), dan kemudian melakukan pemisahan-pemisahan. Sederhananya, setelah membedakan warna-warna batuan dan logam, logam tertentu dikenali dan dipisahkan. Kemudian masalah berikutnya adalah konsentrasi (kepadatan) dari logam itu sendiri yang menunjuk pada kuantiti deposit dan perolehan tambang.

Ketiga langkah tersebut di atas (pembedaan warna, pemisahan dan kepadatan-kuantitas) adalah langkah sangat penting. Dan dalam ekonomi pada saat itu biasanya menentukan apakah suatu tempat layak sebagai penambangan karena memiliki deposit logam yang banyak. Sejak dahulu kala, ketiga pendekatan tersebut dilakukan secara simultan.

Emas tersebar hampir merata di kerak bumi (0.005ppm pada tingkat paling kecil). Meski demikian konsentrasi deposit emas di suatu tempat bisa lebih banyak dari tempat lain. Misalnya di kawasan Rings of Fire atau daerah vulkanik. Oleh karena itu sangat penting untuk menemukan di mana konsentrasi terbanyak dia berada. Kelangkaan emas, termasuk nilai bawaannya, telah menjadikan emas sebagai logam paling penting dan paling dicari. Dan di sisi lain emas juga paling sering digunakan dalam kehidupan manusia sehari-hari, demikian disusul pula oleh perak, yang sering dikaitkan dengan emas.

Kualitas Emas

Kemurnian diukur dari “karat” (kt). Istilah karat dapat dirunut kembali pada sejarah pasar kuno di mana biji “carob” (polong) digunakan untuk menimbang berat (mass). Tetapi karat di sini digunakan untuk menentukan kemurnian logam mulia. 24 karat adalah emas murni (fine gold). Akan tetapi kemurnian emas juga berarti “lebih mahal” dan “lebih tidak tahan lama” dibanding emas yang telah dicampur dengan logam lain. Oleh karenanya seringkali logam lain ditambahkan padanya ketika emas dibuat menjadi perhiasan (jewelry) agar lebih kuat, lebih tahan lama dan memiliki variasi warna yang lebih indah.

Berikut rumus yang digunakan untuk kemurnian suatu logam mulia;
Di mana X  tingkat karat dari logam mulia; Mg adalah berat dari emas murni (atau logam mulia lainnya yang diukur karatnya) dan Mm adalah total berat dari logam mulia tersebut.

Tingkat karat akan memberikan kita informasi mengenai berapa jumlah emas yang dikandung dalam suatu logam mulia. 24 karat itu berarti 99.9% Au w/w atau lebih. 18 karat berarti 75% emas dan sisanya 25% adalah logam lain. Dan 14 karat berarti 58% emas, dan seterusnya. Apabila dibandingkan dengan perhiasan emas, semakin tinggi karat atau kemurnian emasnya semakin tinggi nilainya. Karat juga digunakan selain emas, yaitu untuk logam mulia lainnya seperti Platinum ataupun Perak.

Jadi dari sini dapat diketahui bahwa 1 karat = 4.16% emas. Oleh karena itu, meskipun karat digunakan untuk menimbang berat, tetapi sebetulnya karat digunakan untuk mengukur kemurnian.

Perak

Meskipun perak ditemukan dari alam, tetapi penemuannya sangatlah jarang. Silver (Ag) adalah logam yang paling sering digunakan untuk berbagai aplikasi menggunakan logam. Perak lebih keras daripada emas tapi lebih lunak daripada tembaga. Perak menempati posisi kedua setelah emas dalam hal kelenturan dan daktilitas. Bersifat stabil pada suhu ruang terbuka, tetapi terpengaruh bila terpapar ozone, hydrogen, sulfida atau belerang. Karena “kelembutannya” perak digunakan untuk ornament, perhiasan karena mudah dibentuk, dan juga menjadi ukuran kekayaan pemiliknya, sebagaimana emas.

Mitsqal

Mitsqal adalah ukuran tradisional untuk menghitung berat emas dan batu mulia. Mitsqal diadopsi bangsa Romawi menjadi mitgal atau mithkal. Dan di daratan Afrika disebut mitkal. Di Afrika sekitar abad ke 13 M sampai abad ke 20 M berat mitkal diterapkan pada emas yang digunakan dalam perdagangan. Pada prinsipnya, mitkal berlaku di antara negeri-negeri Barat dan Afrika dengan berat = 1/6 ukuran trade ounce Afrika, yaitu sekitar 4.5 gram, ukuran sekarang. Ukuran ounce di Afrika sendiri mengadopsi dari ounce Bangsa Romawi yaitu berat sekitar 6 sektarii.

Garrard (1980) menyebutkan bahwa bagian Timur dari Akan, yaitu yang sekarang dikenal sebagai Ghana, menggunakan mitsqal sebagai acuan berat. Tetapi saat ini acuan berat yang banyak digunakan dalam perdagangan di Pantai Gading adalah ounce. Garrard menjelaskan bahwa Ghana banyak menghasilkan butiran emas (gold dust) sedangkan Pantai Gading menjual gading dan komoditas lainnya.

Di bagian lain dari Afrika Utara, dan Sahel, untuk koin emas beratnya adalah 6 2/3 mitsqal setara dengan ounce, artinya mitsqal adalah 4.5 gram. Di Mande, bahasa pasaran di Afrika Utara, menyebutnya dengan kata metikale.

Di Sudan satu unit berat adalah 40 habba. Mitsqal adalah berat 40 habba emas, dan kiratnya 10 habba (1 kirat = 4 habba). Dengan demikian 1 Mitsqal adalah 1½ Dirham, yaitu antara 4.4 – 4.68 gram (72.22 biji gandum Barley dipotong atau tidak dipotong). Catat: mitsqal bicara berat bukan nilai.

Dalam kitab ‘Umdatus Salik Imam Syafi’i, Imam Nawawi pada saat membahas zakat, menyebutkan bahwa nisab zakat diatur berdasarkan Mitsqal, bukan Dinar. Dan mengaitkan Dirham dengan Mitsqal.

“wa nisaabu adz-dzahabu ‘isyruuna mitsqaalan wa zakatu nisfu mitsqaalin”

Dan nisab emas adalah dua puluh mitsqal dan zakatnya adalah setengah mitsqal

Dan ketika membahas perak, beliau mengatakan;

“wa zakatu khomsatu darahim”

Dan zakat dari nisab perak yang harus dibayar adalah lima dirham

Berbeda dengan Imam Syafi’i, dalam ‘Umdatus Salik ‘ala Madzhab Maliki, Imam Abul Hasan Syadzili mengatakan;

“fi nisabi adz-dzahabi ‘asyruuna dananir”

Di sini jelas secara teks menggunakan kata dinar sekaligus penunjuk bahwa 1 dinar adalah 1 mitsqal. Dan dari sudut pandang historis dapat dikatakan bahwa kata Dinar maupun Mitsqal saling digunakan bergantian satu sama lain dan menunjuk pada suatu yang bermakna sama, di mana Dinar menunjuk pada currency sedangkan Mitsqal menunjuk pada beratnya.

Perhitungan berat adalah sangat krusial, karena hal itu berpengaruh pada kejujuran dalam perdagangan dan pertukaran, juga kaitannya untuk menentukan zakat (nisab dan pembayaran).

Sekarang kita mengetahui rate tradisional yang digunakan syari’ah dalam mengatur nisab zakat, di mana

5 Dirham = 0.5 Dinar

Rate di atas untuk menyebutkan nilai (value), dan bukan berat. Bandingkan dan perhatikan bahwa rasio berat 1½ Dirham = 1 Mitsqal (Dinar) yang dibahas sebelumnya adalah mengacu berat bukan nilai (value).

Ketika hari ini kita tidak lagi menggunakan emas dan perak sebagai acuan nilai, maka kita menghadapi masalah, yaitu manakala nilai perak 72 kali di bawah emas, artinya perak mengalami under-valued. Mengapa hal ini terjadi?

Setting dari harga emas dimulai di London, dikenal sebagai London Fixing, yang dikuasai oleh dinasti Rothschild, yang melakukan judifikasi harga dan transvaluasi nilai komoditas yang berlaku secara global. Kemudian, pada pihak lain London Fixing mengembangkan LBMA sebagai institusi yang melakukan assay terhadap emas (atau logam mulia) dan merilis sertifikat kadar dan berat emas atau logam mulia lainnya. Jadi dalam konteks London Fixing maupun institusi valuasi emas lainnya yang berbasis di London, seharusnya “ditolak” oleh mereka yang memperjuangkan kembalinya bi-metalic currency.

Open Source Minting (Penyetakan Mata Uang Terbuka dan Mandiri) melalui Dirham

Pilihan untuk memulai sebuah penyetakan currency yang bersifat terbuka (open source), pada dasarnya agar umat bisa mendapatkan mata uang perak, yaitu Dirham, yang low cost serta mudah diakses dan sesuai syari’ah (sharia compliant currency) dengan acuan faktor berat sebagaimana telah dibahas di atas.

Untuk mengingat kembali bahwa 72 butir biji gandum Barley dalam penimbangan adalah 4.4 – 4.5 gram. Sehingga nisab zakat adalah antara 88 – 90 gram emas. Aturan syariah mesti bersifat antisipatif dan bukan membatasi.

Dalam ekuivalensi berat, maka nisab zakat dari Dirham perak, atau yang lain, ditentukan antara 587 – 622 gram perak. Sehingga dapat dilihat bahwa berat Dirham adalah antara 2.935 – 3.11 gram pada koin.

Saat ini ada beberapa mint (penyetak) Dirham, di antaranya:

1. WIM (World Islamic Mint) dan Wakala; WIM didirikan oleh Umar Vadillo dan saat ini memproduksi koinnya di UAE untuk distribusi internasional, terutama Kelantan, Malaysia. Biaya cetak koin sangat dipengaruhi oleh ongkos handling dan biaya tambahan lainnya sehingga harga koin lebih tinggi hingga 25% yang disebut premium. Menurut pandangan saya hal ini tidak dapat dipertahankan, dan koin cetaknya hanya bisa dianggap sebagai koin medali peringatan (commemorative coin). Akibat lainnya WIN, jaringan WIM di Indonesia yang semula menyetak di LM dengan sertifikasi LBMA tapi sekarang menyetak ke Kriya Tempa.

2. Islamic Mint Nusantara (IMN) didirikan Ahmad Adjie dan Abbas Firman telah berhasil memproduksi koin kualitas terbaik dan konsisten dengan ongkos produksi yang sangat rendah. Sayang kegiatan mereka sering diblokir oleh pihak WIN.

3. Amirate America, yang dipimpin Amir Abdullah Yasin di Amerika Serikat telah berhasil mendistribusikan koin cetakan mandiri dengan denominasi 10 Dirham.

4. INM (Islamic Network Mint) atau Cape Town Mint, dipimpin Amir M. Abrahams dan dukungan Abdurrahman Phillips telah berhasil menyetak Dirham dengan standar yang digunakan bersama dengan IMN dan Amirate America yang dikenal sebagai Open Mitsqal Standard (OMS).

5. Bagi seluruh para pemimpin muslim didorong untuk menyetak mandiri koin bimetalik mereka secara mandiri dalam konsep open source sebagaimana dibahas di depan.

Sumber: http://muamallat.wordpress.com/2011/04/30/open-mitsqal-dan-sistem-dinardirham/

Pos ini dipublikasikan di Dinar Dirham dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s