Dinar Dirham bukan sekedar Alat Investasi dan Proteksi Nilai

Saya teringat dengan berbagai diskusi dengan rekan rekan penggiat dinar dan dirham di berbagai grup. Pro dan Kontra banyak terjadi, ada yang mengatakan dinar dirham itu bukan emas dan perak, dinar dan dirham bukanlah alat investasi. Ada sebagian melarang penggunaan dinar dan dirham sebagai alat investasi yang ditujukan untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga beli saat ini dan harga jual saat yang akan datang. Saya berpendapat  bahwa seseorang yang berniat untuk menyimpan dinar dengan niat untuk mendapatkan keuntungan suatu saat itu tidak dapat dilarang, artinya kita tidak bisa menghukumi bahwa penggunaan dinar dan dirham sebagai investasi adalah haram. Ulama ulama pun berfatwa bolehnya investasi dinar dan dirham.

Fakta bahwa memang dinar dan dirham sama seperti emas dan perak, tapi sebagian penggiat dinar membedakan. Disini nanti timbulkan kontradiksi kontradiksi, seperti penetapan nishab zakat harus  berdasarkan dinar dan dirham bukan berdasarkan emas dan perak. Padahal dinar-dirham serta emas–perak menurut ulama ulama mazhab yang pernah saya jelaskan sebelumnya adalah sebagai alat tukar. Dinar-dirham dan emas-perak berfungsi sebagai alat pengukur kekayaan begitu juga dengan uang kertas saat ini dianalogikan sebagai emas dan perak dalam hal ini uang kertas sebagai alat tukar. Jadi ketiganya sama sama diperlakukan sebagai alat tukar. Walau ada sebagian pun yang mengkategorikan dinar dan dirham sebagai komoditas karena pada saat ini tidak diakui sebagai mata uang yg diakui negara. Apapun pendapat mengenai emas dan dinar nantinya akan menimbulkan konsekuensi dan perdebatan yang sangat panjang. So, faktanya bahwa mata uang dengan berbasis emas lebih baik dibanding dengan mata uang berbasis uang kertas. Sejarah pun membuktikan.

Saya tetap menyarankan pembaca untuk menggeser niat untuk memiliki dinar dan dirham dari sekedar investasi, mengapa? Karena dalam sistem ekonomi Islam, ekonomi tumbuh bukan karena investasi seperti ini tapi melalui investasi produktif seperti di sektor riil. Mindset kita mengenai investasi masih mengikuti mindset orang barat bahwa emas seperti halnya komoditas adalah sesuatu yang dapat diperjualbelikan sehingga didapatkan gain/profit dari jual beli. Karena itu di negara barat yang terjadi banyaknya orang itu jual beli emas sebagai komoditas dalam bentuk surat/paper karena kemudahan dalam perpindahan tangan.

Berbeda dengan mindset orang timur yang cenderung menyimpan emas adalah sebagai alat untuk melawan inflasi. Orang Asia khususnya seperti Cina dan India ( merupakan konsumen emas terbesar dunia) menyadari bahwa inflasi adalah sebuah “takdir” dalam hidup mereka, sehingga mereka memiliki emas untuk melawan takdir tersebut. Saya berharap bahwa rakyat Indonesia pun seperti itu. Lupakan bahwa inflasi itu ada kebaikan kebaikannya, karena untuk orang yang paham tentu mengetahui bagaimana memanfaatkan inflasi, tapi bagaimana dengan orang awam yang mereka hanya tau jual beli menggunakan uang rupiah, taunya hanya menerima gaji dengan rupiah. Mereka adalah mayoritas tidak menyadari bahwa inflasi telah menggerogoti hasil jerih payah usaha mereka.

Karena itu saya sangat menganjurkan pengguna dinar dan dirham mari kita gunakan dinar dan dirham dengan menggunakan mindset orang timur, miliki dinar dan dirham baik ketika harga naik ataupun turun dan menjual ketika saat sedang darurat memerlukannya. Dan menjadi lebih baik bila dinar dan dirham oleh pengguna untuk disebarluaskan kepada keluarga, teman-teman, lingkungan kecil kemudian lingkungan besar, sehingga dengan tersebarnya penggunaan dinar dan dirham menjadi trigger untuk memberlakukan dinar dan dirham sebagai mata uang yang adil.

Hambatan sosialisasi dinar dan dirham terjadi karena masih menganggap bahwa ini adalah salah satu portofolio investasi. Saya tidak melarang investasi dinar dan dirham tapi sejatinya jika dinar dan dirham diperlakukan sebagai alat investasi saja, maka cenderung akan mengurangi nilai dari dinar dan dirham tersebut. Mengapa? Pada saat ini penyebaran dinar dan dirham dilakukan oleh sebagian kecil pengelola, dan yang dihadapkan ke depannya adalah ketika semakin besar pengguna dinar dan dirham maka yang akan kesulitan  adalah para pengelola tersebut karena nantinya setiap pengguna dinar dan dirham akan menjual dinarnya kepada pengelola. Sedangkan untuk saat ini saja bisa saja pengelola yang kurang bagus dalam mengelola sistemnya tidak dapat membeli semua dinar yang dimiliki, yang pada akhirnya stigma bahwa dinar tidak sebagus dan selikuid emas batangan akan terbentuk dan tentunya ini hal yang sangat tidak kita inginkan. Dan faktanya ini terjadi karena pengelola tidak siap mengedukasi kepada pengguna / user. Penjualan kembali ke  pengelola seharusnya menjadi cara terakhir dan bukan cara utama. Yang paling utama adalah menjual atau saling tukar menukar dengan pengguna, selain harga jual lebih baik juga membantu memasyarakatkan dinar sebagai alat tukar. Kesalahan lainnya pun terjadi yaitu pemahaman bahwa  harga dinar ada karena pengakuan tapi sebaiknya harga dinar ada karena adanya nilai yang terkandung pada dinar.

Namun jika kita memperluas mindset kita akan dinar dan dirham sebagai alat tukar dan proteksi nilai, maka insya Allah penggunaan dinar dan dirham akan seperti penggunaan uang kertas yg saat ini populer digunakan, dan bisa saja suatu saat orang akan menerima dinar dan dirham dibanding uang kertas. Kedepannya dinar dan dirham sebagai alat tukar dan alat pengukur nilai sesungguhnya dan kita tidak perlu bergantung pada pengelola karena kita dengan mudah menukarkan dinar dan dirham kita dimana saja dan kepada siapa saja.

Uang Kertas mendapatkan perlakuan dan pengakuan karena diakui oleh pemerintah, sedangkan emas-perak, dinar dan dirham tidak memerlukan pengakuan dari pemerintah karena nilainya ada bukan karena pengakuan tapi karena memang didalamnya terkandung nilai intrinsiknya.

Bahkan ke depannya dengan menggunakan dinar dan dirham serta melunturnya penggunaan uang kertas akan meruntuhkan rezim finansial berbasis uang kertas dan fractional reserve. Uang kertas tercipta karena kepercayaan / trust, ketika kepercayaan itu hilang maka nilainya pun hilang.

Wallahu alam.

Sumber: DinarBandung.Com

Pos ini dipublikasikan di Dinar Dirham dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s