Peluang bagi Pemilik 100 Dirham Perak

Oleh: Rony Mukhlison

Suatu ketika nanti kita perlu memiliki bisnis/perdagangan. Disamping untuk membebaskan diri dan keluarga kita dari jerat riba, juga untuk persiapan masa krisis. Karena krisis, tempat kerja kita sekarang sedikit banyak akan terkena imbasnya. Dan kemungkinan terburuknya kita di PHK atau otomatis berhenti kerja karena tempat kerja kita bangkrut. Dan akan menjadi beban lagi karena harga kebutuhan pokok melambung tak sebanding dengan penghasilan kita. Apalagi jika hyperinflasi terjadi.

Perdagangan komoditi adalah salah satu peluang di tengah krisis. Selain itu tentunya ummat juga akan lebih membutuhkan muamalah berbasis sunnah. Karena kepastian harga akan sulit dicapai jika memakai uang kertas.

Bagaimana jalan keluarnya ??

Yup… Sebagian dirham yang kita miliki kita tukar dengan emas (dinar), yang dengannya kita bisa jadikan modal dagang atau membeli tanah pertanian / perkebunan. Dinar yang terbuat dari emas, kemungkinan besar lebih mudah dikenali oleh masyarakat. Dengan dinar kita beli gabah, beras, gula, minyak goreng, kurma, garam, dkk

Setelah mendapatkan gabah, beras, gula, dkk? Ya bisa ditukar (dijual) dengan dirham. Alhamdulillah, dirham yang telah pergi, kembali ke kita lagi bukan? Siklus ini bisa kita ulang berkali-kali, sehingga bisa menjadi penghidupan untuk kita. Dan tentunya ummat juga memperoleh manfaat karena kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi walau dengan cara yang berbeda.

Salah satu kesulitan dalam muamalah berbasis dirham dan dinar adalah kembali ke kertas, sehingga membuat beberapa missing link dengan dinar / dirham.

Jalan keluarnya ??

Tentu DnD perlu ditunjang dengan “uang” dalam bentuk lain. Ya, uang berbentuk komoditi inti / umum:

Dinar <-> Dirham <-> Gabah <-> Beras <-> Jagung <-> Gula <-> Kurma <-> Gandum <-> Garam

Berikut ini alternatif pertukaran untuk menarik komoditi dari luar komunitas Pengguna dan Pedagang yang menggunakan Dinar Dirham, agar beberapa komoditi inti dapat dengan mudah dipertukarkan dengan dirham oleh ummat:

Dirham –> Dinar –> Gula <–> Dirham

Pabrik gula mungkin lebih familier dengan emas, dalam hal ini kita pakai dinar. Namun begitu gula sudah masuk kedalam jaringan Pengguna Dinar Dirham, lebih mudah mempertukarkan gula dengan dirham.

Gula –> Gabah <–> Dinar / Dirham

Petani / pemilik sawah mungkin lebih membutuhkan gula, minyak goreng, dkk. Sehingga gabah dari petani dapat kita tarik masuk, dipertukarkan dengan gula yang kita peroleh dari pabrik gula. Begitu gabah sudah masuk dalam jaringan Pengguna Dinar Dirham, lebih mudah dipertukarkan dengan dinar / dirham. Secara tidak langsung kita menolong petani memenuhi kebutuhannya, tanpa perlu dipusingkan dengan jatuhnya harga gabah dan naiknya harga sembako lainnya.

Dirham –> Dinar –> Beras <–> Dirham

Penyelepan beras atau Penggilingan Padi-Beras mungkin lebih familier dengan emas / dinar. Jadi lebih mudah membeli 1 ton beras dengan 3-4 dinar emas ketimbang 100-200 dirham. Namun jika kita telah memiliki gabah, kemudian kita gilingkan di penyelepan atau penggilingan padi-beras, ongkos penyelepan/penggilingan cukup memakai beberapa keping dirham, tidak perlu dinar.

Dirham –> Dinar –> Jagung <–> Dirham

Mengapa jagung? Ya… jagung adalah salah satu makanan pokok, juga untuk ternak ayam (ingat pertukaran Dirham <-> Ayam? Ini menjadi mungkin dengan adanya jagung)

Dirham –> Dinar –> Kurma <–> Dirham

Importir kurma mungkin lebih familier dengan emas / dinar

Beras / Gula –> Madu <–> Dirham

Kita bisa memakai barter beras / gula dengan madu, karena petani madu mungkin tak terlalu akrab dengan dirham. Begitu madu itu sampai ke jaringan Pengguna DnD, dirham adalah pilihan berikutnya.

Dan sebagai hasil siklus muamalah kebutuhan pokok berbasis sunnah pun menjadi lengkap :

Dinar <-> Dirham <-> Gabah <-> Beras <-> Gandum <-> Jagung <-> Gula <-> Garam <-> Kurma <-> Madu

sehingga bisa dilanjutkan ke yang lain, yaitu :

Dinar <-> Kambing

Dirham <-> Ayam, dan sebagainya.

Pos ini dipublikasikan di Dinar Dirham dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s