Paguyuban (Guilds) Islam, Pasar Islam, dan Wirausahawan Muslim

Apa itu Paguyuban (Guilds)

Paguyuban adalah perkumpulan para pekerja ahli yang alamiah dari masyarakat. Selama ribuan tahun, masyarakat beradab mengatur perdagangan mereka melalui paguyuban. Sepanjang sejarah, sistem paguyuban mewakili gerak hati alamiah masyarakat untuk memerintah dirinya sendiri menghadapi perubahan-perubahan mengikuti perkembangan dan kemajuan.

Paguyuban adalah perkumpulan para pekerja ahli (master) yang juga mempunyai thalib/apprentice (orang yang belajar) yang melakukan pekerjaan bersama secara horisontal dengan dasar persaudaraan karena Allah. Tidak ada biaya yang dikenakan bagi para thalib dan juga tidak ada upah bagi para master untuk mengajarkan keahliannya.

Bahkan para thalib malah bisa memperoleh uang dari keahliannnya membantu para master yang mempunyai pekerjaan tertentu dan juga para master bisa memperoleh manfaat dari keahlian para thalib untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Paguyuban adalah tempat belajar untuk menjadi ahli di bidangnya yang terbuka bagi siapa saja yang mempunyai keinginan yang kuat dan sungguh-sungguh. Paguyuban adalah tempat belajar dan sekaligus tempat bekerja karena bukan hanya berhubungan dengan para ahli saja tapi juga berhubungan dengan para pembeli/konsumen yang membutuhkan produk atau jasa dari perkumpulan para ahli/pakar tersebut.

Para thalib di paguyuban bukan hanya belajar keahlian di bidang tertentu saja tapi langsung belajar juga dari mulai cara menjual produk dan jasanya kepada pembeli, perancangan produksi, proses pembuatan, pengemasan produk, finishing dan layanan purna jual.

Dan juga para thalib ini juga belajar bagaimana adab-adab dalam berhubungan dengan majikan, bawahan, mitra kerja dan konsumen. Adab ini jauh lebih penting dari keahlian yang dipelajari, maka para master bisa ditinggalkan oleh para thalib seandainya tidak mempunyai adab-adab yang sesuai syar’i.

Setelah mengalami masa belajar di paguyuban, para thalib ini bisa langsung menjadi pedagang mandiri yang langsung bisa menjual produk dan jasanya di Pasar Islam atau bisa juga memilih untuk bekerja kapada orang lain dengan sistem upah atau bisa juga menjadi pekerja lepas dengan basis proyek/pekerjaan.

Paguyuban adalah sekaligus tempat riset dan pengembangan baik dari sisi keahlian maupun dari sisi produk. Keahlian dan produk hasil riset ini bisa langsung dijual di Pasar Islam tanpa harus menunggu permodalan, pemasaran dan sistem distribusi tertutup yang telah dikuasai oleh segelintir orang (oligarki kapitalis).

Tempat belajar hari ini telah turun derajat ke dalam organisasi kaku tertutup (ekslusif) yang akhirnya membolehkan hak-hak istimewa yang men-setting murid hanya untuk menjadi pegawai yang tidak mengenal barakah, halal, haram dan syubhat dalam mencari nafkah. Dan ini adalah bagian dari sistem riba (monopoli).

Tempat belajar dan bekerja hari ini telah dibuat urusan keduniawian, dicabut dari makna diin (agama), dia telah dipindahkan dari bagian syariat. Diin sekarang telah dianggap kedudukan agama yang hanya terbatas pada ibadah ritual harian.

Sedangkan muamalah, bagian syariat yang berurusan dengan cara belajar dan transaksi-transaksi yang berurusan dengan perdagangan telah dihilangkan, yang akhirnya membantu kepentingan sistem kufur (riba dan monopoli).

Lihat saja hari ini, tempat belajar dengan alasan ingin dikatakan modern, telah berlomba-lomba untuk menghiasi gedung dan peralatannya dengan cara meminjam dari rentenir yang bunga ribanya dibebankan kepada para thalib. Wajar saja, kalau biaya belajarnya terus naik dari tahun ke tahun. Institusi pendidikan sudah menjadi bagian dari sistem riba.

Lihat juga hari ini, tempat bekerja dengan modal, sarana dan prasarananya dibiayai dengan pinjaman dari rentenir yang bunga ribanya dibebankan kepada para pekerjanya untuk bekerja keras dengan cara yang tidak mengenal halal, haram dan syubhat, yang penting mendatangkan laba dan keuntungan. Institusi pekerjaan/perusahaan sudah menjadi bagian dari sistem riba.

Peradaban Islam ratusan tahun menempatkan tempat belajar dan bekerja di komitmen diin dan hasilnya adalah kelahiran dan perkembangan paguyuban. Dan paguyuban tidak akan bisa diwujudkan tanpa adanya Pasar Islam. Dan Pasar Islam tidak akan bisa diwujudkan tanpa adanya dinar dirham Islam. Tugas kita adalah membawa tindakan belajar, bekerja dan berdagang di bawah cahaya syariat.

Fungsi Paguyuban (Guilds)

Fungsi Paguyuban menjadi tempat bekerja dan pendidikan yang efektif bagi kaum muda Islam dan masyarakat pada umumnya. Paguyuban mempunyai fungsi sosial untuk membantu anggota paguyuban itu sendiri dan masyarakat muslim pada umumnya. Paguyuban sebagai bentuk layanan kepada masyarakat luas. Fungsi Paguyuban berkaitan erat dengan kembalinya fungsi waqf, Dinar-Dirham dan Pasar Bebas Islam.

Kerja adalah pada dasarnya ibadah untuk mencari barakah (ridha Allah). Kerja bukanlah semata-mata, seperti dibayangkan hari ini, kejadian dan alat memperoleh sebuah gaji atau untuk menghasilkan barang-barang.

Itulah sebabnya kerja tidak dianggap sebuah kegiatan otot atau otak tetapi jiwa.  Karena alasan inilah jalan masuk ke kerja dan tempat kerja mempunyai sisi rohaniah, tak dapat dibatasi pada kelas dan tak juga dapat diukur menurut golongan-golongan pendapatan.

Karena hanya lelaki-lelaki bebas dapat melayani, kita bedakan pekerja yang melayani khalayak dengan budak-upah yang memenuhi kerjaan otomatis seperti tugas yang sudah ditentukan demi gaji. Mengganti  pekerja oleh sebuah mesin semata-mata menyatakan secara tidak langsung mengganti satu macam ongkos eksploitasi dengan lainnya. Dalam pengertian ini mesin dan budak-upah yang digantikannya sama saja.

Pada akhirnya mesin akan lebih disukai untuk bekerja 24 jam penuh untuk membayar cicilan dan bunga riba yang bisa membengkak terus. Inilah akibat dari prinsip-prinsip ekonomi modern super jahiliyah yang menyuburkan riba dan monopoli dalam perdagangan dan industri.

Karena itu pekerjaan massal sendiri membiakkan pengangguran, yang akhirnya mengharuskan kebutuhan untuk memasukkan modal yang sangat besar untuk perdagangan dan produksi sehingga kapitalisme hanya menjunjung tinggi mereka yang memiliki uang semata.

Maka hari ini para pedagang dan pekerja menjadi budak-budak rentenir. Mereka dengan rela berpikir dan bekerja keras 24 jam penuh semata-mata untuk membayar cicilan pokok dan bunga riba kepada rentenir. Maka wajar saja,  prinsipnya juga time is money (waktu adalah uang). Pedagang dan pekerja sudah menjadi bagian dari sistem riba dan monopoli.

Sedangkan paguyuban memungkinkan keuntungan bersama melalui kerja-sama dan persekutuan. Di dalam paguyuban (gilds) bisa terjadi akad-akad qiradh (investasi bagi hasil), syirkah (persekuruan modal dan kerja), ijarah (sewa menyewa dan upah mengupah). Dilarang untuk melakukan riba dan monopoli apalagi berhubungan dengan rentenir

Dasar-dasar Gilda (Paguyuban)

  1. Keyakinan bahwa Allah-lah yang memberikan rizki, melebihkan dan mengurangkan dengan rahmat-Nya.
  2. Persaudaraan yang kuat karena Allah swt
  3. Mujahadah (berjuang dengan sungguh-sungguh)
  4. Kerja adalah sebuah bentuk ibadah kepada Allah Swt
  5. Pendidikan Muslim yaitu ilmu (pengetahuan) harus dibagi untuk membebaskan orang-orang dari kbodohan dan keterbelakangan
  6. Menghilangkan COPY-RIGHT menjadi COPY-LEFTS yaitu prinsip dengan menyampaikan ilmu kepada orang lain maka pahala akan mengalir dan ilmunya akan ditambah oleh Allah Swt.
  7. Kerjasama horizontal dengan adanya akad-akad qiradh, syirkah, ijarah, ariyah antar anggota paguyuban
  8. Waqf. Sumbangananggota Paguyuban itu sendiri dan dari masyarakat muslim

Karena dalam Islam tidak ada pajak diwajibkan untuk awqaf, ia menyatakan secara tidak langsung sebuah kemuliaan watak dimana anggota paguyuban ‘menerima’ pemberian pembiayaan awqaf. Ini adalah zuhud dan keikhlasan untuk membantu mereka yang butuh.

Bagian pokok dari paguyuban adalah penciptaan wakaf (atau awqaf) yang menggantikan gagasan lama tentang kesejahteraan terpusat dengan sistem lembaga kesejahteraan-langsung swatantra. Wakaf dari paguyuban, diciptakan melalui sumbangan anggota-anggota, dimaksudkan sebagian untuk masa depan yang tak terjangkau, sebagian ditujukan pada pekerjaan dan sebagian pada bantuan sosial dan kesejahteraan untuk anggota-anggota dan keluarga-keluarga mereka.

Kesimpulan

Maka mau sampai kapan kita menjadi budak sistem kufur riba dan monopoli yang dibuat oleh Yahudi ini?  Seperti ungkapan Umar bin Khattab bahwa manusia itu pada dasarnya hina, baru disebut mulia ketika hidup dengan aturan Islam.

Sistem kufur riba dan monopoli telah membuat kita menjadi bodoh (jauh dari diinul Islam), miskin (terbelakang dalam perdagangan), hina dan menjadi santapan lezat bagi musuh-musuh Islam. Jangan sampai kita mengikuti Yahudi dan Nasrani masuk ke dalam lubang biawak. Naudzubillah

Sumber: http://blogmuamalah.wordpress.com/2010/07/22/paguyuban-guilds-islam-adalah-teknik-mendidik-umat-menjadi-wirausaha-ahli-mandiri/

Pos ini dipublikasikan di Dinar Dirham, Muamalah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s